Komite Dakwah Khusus MUI untuk Daerah Rawan Pemurtadan

Dewan Da’wah News, Jakarta – Dalam konteks dakwah sebagai gerakan, Komite Dakwah Khusus (KDK) MUI Pusat memiliki tugas mulia, yakni mengawal aqidah ummat dan menjalankan dakwah sebagaimana  mestinya (himaayat al-ummat wa ad-da’wah) secara  profesional  dengan tidak mengabaikan anaashir (unsur-unsur) konstitusional yang berlaku.

Hal itu disampaikan oleh Ustadz Teten Romly Qomaruddien, MA (Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat) di hadapan para tokoh dan ulama dalam acara pertemuan Forum Group Discussion Komite Dakwah Khusus Majelis Ulama Indonesia (FGD-KDK MUI) dengan judul “Pemetaan Gerakan Dakwah Khusus di Daerah Rawan Pemurtadan” di kantor Aula Utama Gedung Majelis Ulama Indonesia Pusat, Jl. Proklamasi Menteng, Jakpus pada Sabtu (16/3/2019).

Karenanya, kata Teten acara ini penting untuk disimak sebab MUI salah satu amanahnya adalah problematika dakwah dalam hal ini pemurtadan.

“Bertolak pada tugas pokok tersebut di atas serta memperhatikan problematika dakwah khususnya terkait dengan pemurtadan dan hal-hal yang dapat mempengaruhi aqidah ummat maka KDK MUI Pusat memandang perlu untuk mengambil langkah-langkah dakwah strategis dalam mencari jalan keluarnya,” ujar Teten

Tokoh dan ulama yang hadir di antaranya, Drs. H. Abu Deedat Syihab, MH. (Ketua KDK) dan H. Moh. Naufal Dunggio, MA. (Sekretaris KDK) H. Sholahuddin El-Ayyubi, Lc, MA. (Muallaf Centre Baznas), Dr. Ir. H. Nanang Prayudyanto dan Romadi Yanto (Komite Nasional Anti Pemurtadan), Abu Taqi Mayestino (Abdullah Wasi’an Foundation Surabaya), Drs. Yudhiardi dan Dr. Misbahul Anam (Dewan Da’wah News dan Bidang Dakwah Dewan Da’wah), Hassan Kristo (Utusan PP PERSIS Halmahera), H. Ismail Yusanto (Aktivis dan Da’i), Bunda Nevy (Aktivis dari Parigi Mautong Sulawesi Tengah, Mantan Missionaris dan Penginjil), Hasbi Yusuf (BKPMRI, Dosen dan Aktivis Anti Pemurtadan  Morotai Maluku), KH. Amin Djamaluddin (Ketua LPPI, senior KDK dan Pakar Aliran-aliran), H. Dudung Ramadhani, Lc. (Pemuda PERSIS DKI Jakarta), Perwakilan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Perwakilan Lembaga Dakwah Khusus Muhammadiyah, Perwakilan Forum Kajian Islam Ciputat, Perwakilan AILA, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI) dan sejumlah pengurus KDK MUI Pusat.

Kemudian dalam sambutannya Dr. H. Amirsyah Tambunan, MA. (Wakil Sekjend MUI Pusat) menuturkan penyebab pemurtadan adalah fanatisme kelompok.

“Di samping beragamnya penyebab klasik di antaranya kemiskinan dan ketidakfahaman, faktor fanatisme kelompok pun masih menghiasi terjadinya kelengahan dan kurangnya perhatian dalam masalah ini,” ujar Amirsyah.

Harapannya, Amirsyah melanjutkan KDK MUI dapat menjadi solusi di tengah menghadapi problematika dan wadah perjuangan umat.

“Oleh karenanya, KDK MUI Pusat diharapkan harus mampu menjadi lembaga perjuangan bersama yang tentunya disesuaikan dengan problematika ummat yang terjadi di daerahnya masing-masing,” katanya.

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari FGD tersebut terdapat lima hal.

Pertama, kristenisasi dan pemurtadan di tanah air bukanlah isu, melainkan fakta nyata yang wajib disikapi dengan seksama.

Kedua, Untuk lebih memastikan fakta dan data, investigasi di daerah-daerah terindikasi pemurtadan harus segera dilakukan.

Ketiga, Pentingnya menyegarkan kembali modus vivendi antar ummat beragama dan mengetahui lebih dekat modus operandi yang mereka lakukan sebagaimana telah dirintis oleh para pendahulu tokoh ummat dan bangsa. Di antaranya, KDK harus melahirkan “Buku Panduan Bersama” dalam membendung kristenisasi dan pemurtadan.

Keempat, Meningkatkan peran KDK MUI Pusat sebagai markaz perjuangan bersama dengan merekatkan seluruh anashir ummat Islam.

Kelima, Mempercepat proses pembentukkan KDK di wilayah MUI Daerah dengan prioritas daerah-daerah rawan pemurtadan.

Reporter: teten

Editor: tamam