EDARAN PENGURUS PUSAT DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA TENTANG SHALAT IDUL FITRI DI SAAT PANDEMI COVID-19

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pengurus Pusat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dengan ini menyampaikan EDARAN TENTANG SHALAT IDUL FITRI SAAT PANDEMI COVID-19 sesuai Hasil Telaah Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia sebagaimana terlampir.

Edaran tersebut hendaknya dapat dilaksanakan dan dapat menjadi panduan bagi ummat Islam umumnya dan Keluarga Besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pada khususnya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita dan segera mejauhkan kita dari musibah. حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Jakarta, 25 Ramadhan 1441 H / 19 Mei 2020 M

 Pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

ttd.
Drs. H. Mohammad Siddik, MA
Ketua Umum                                           

ttd.
Drs. H. Avid Solihin, MM
Sekretaris Umum                                                                     

Lampiran Edaran Pengurus Pusat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
Nomor 215/Peng-DD/V/1441/2020
Tanggal 25 Ramadhan 1441 H / 19 Mei 2020 M

HASIL TELAAH MAJELIS FATWA DAN PUSAT KAJIAN
DEWAN DA‘WAH ISLAMIYAH INDONESIA
Nomor: 008/MF-DD/V/1441 H/2020 M

TENTANG
SHALAT IDUL FITRI SAAT PANDEMI COVID-19

Dengan rahmat, inayah, dan ma‘unah dari Allah Jalla Jalaluh, Pusat Kajian Dewan Da‘wah Islamiyah Indonesia setelah;

Menimbang:

  1. Bahwa hari raya Idul Fitri bagian dari hari-hari Allah (AyyāmuˆAllāh), syi‘ar terbesar Islam, dan event paling bahagia (Ayyāmu al-Farah), yang menandai sempurnanya puasa Ramadhan dan kembalinya kaum muslimin pada fitrah insaninya;
  2. Bahwa perayaan Idul Fitri bukan semata-mata bicara hukum Fikih Shalat Hari Raya an sich, melainkan juga bicara syi‘ar, solusi syariat,  konsep keselamatan dan penyelamatan ummat dan bangsa. Antara lain dengan hikmah diperintahkannya para gadis dan wanita haidh untuk bergabung ke tanah lapang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;
  3. Bahwa Islam secara syar‘i, hanya memiliki 3 (tiga) hari besar, yaitu hari Jum‘at sebagai event pekanan, dan Idul Fitri-Idul Adha sebagai syi‘ar  tahunan. Ketiga Hari Raya ini, eksistensi dan kewenangannya bagian dari hak prerogatif Allah Jalla Jalaluh Yang Maha Pemberi Solusi;
  4. Bahwa keberadaan dan kedudukan Dua Hari Raya Islam telah menasakh  (invalidasi) semua hari raya Jahiliyah dan Ahli Kitab. Sehingga eksistensinya wajib dipertahankan secara syar‘i dan konstitusional secara bersama-sama oleh para Ulama, Umara dan kaum muslimin secara baik, benar, dan indah;
  5. Bahwa menutup secara total tempat ibadah, tanpa pemilahan status dan kejelasan zona adalah tindak kezaliman yang nyata, mereduksi institusi dan konstitusi Islam.

Mengingat:

  • Firman Allah subhānahu wa ta‘ālā:
    • Surah Ibrahim ayat 5, terkait keagungan hari-hari Allah “Ayyāmu^Allāh”, di mana Hari Raya Idul Fitri ada di dalamnya.

وَذَكِّرْهُم بِأَيَّىٰمِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

 “…Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Q.S. Ibrahim/14: 5);

  • Surah Yunus ayat 58, terkait Hari Raya Idul Fithri sebagai hari bahagia “Ayyam al-Farah”, setelah sebulan penuh melakukan shiyam dan qiyam Ramadhan

قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ

“Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus/10: 58);

  • Surah Al-Hajj ayat 32, terkait dua Hari Raya sebagai syi‘ar terbesar Islam

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj/22: 32);

  • Penutup surah Al-Baqarah ayat 185 tentang seruan takbir Hari Raya Idul Fithri, pada kalimat “walitukabbiru^Allāh ’alā mā hadākum”, menurut Tafsir Jumhur Ulama.
  • Hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
  • H.R Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anh tentang kedudukan dan marwah Idul Fitri di atas hari raya agama manapun

قالَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ و سلَّمَ: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَ يَوْمَ الْفِطْرِ

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah sudah mengganti hari besar kalian ini dengan yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.” (H.R. Nasa‘i, Abu Dawud, Ahmad, al-Shahihah Syekh Albani 2021);

  • H.R A‘isyah radhiyallāhu ‘anhā, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas radhiyallāhu ’anhum terkait syariat Dua Hari Raya (al-Idaen) sebagai hari kesatuan dan persatuan kaum Muslimin, di mana Ulama, Umara, dan jumhur ummat idealnya serentak dalam penyelenggaraannya.

قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم: الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَ اْلأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Idul Fitri yaitu di waktu kembali berbukanya manusia, dan Idul Adha di hari menyembelihnya manusia.” (Shahih Ibnu Majah 1355, Shahihul Jami’ 4286);

عن ابن عبّاسٍ قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم: “إنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ جَعَلَهُ اللهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, yang Allah jadikan ketetapan bagi kaum Muslimin.” (H.R Ibnu Majah 1098, Shahih Targhib 707);

  • H.R Ummu ‘Athiyyah radhiyallāhu ‘anhā, terkait perintah pada kaum perempuan, gadis, dan wanita haidh untuk keluar ke tanah lapang dan atau tempat shalat Ied.

عن أم عطية نسيبة بنت كعب: أُمِرْنَا أنْ نَخْرُجَ فَنُخْرِجَ اْلحُيًّضَ وَاْلعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ اْلخُذُوْرِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَعْوَتَهُمْ وَ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّاهُمْ

Ummu ‘Athiyyah Nusaybah binti Ka’ab radhiyallāhu ‘anhā:

“Kami diperintah untuk keluarkan wanita haidh, para gadis, dan wanita yang dipingit. Supaya mereka menyaksikan jama’ah kaum muslimin, dan mendoakan mereka, dengan memisahkan mereka dari tempat shalat.” (H.R Muttafaq ‘Alaih. Shahih Bukhari 324, Shahih Muslim 890);

  • Pandangan Ahlul-‘Ilmi:
  • Imam Ibnul A‘rabi (Kufah: 150-231 H):

قاَل ابنُ اْلأَعْرَابيّ: سُمِّيَ الْعِيْدُ عِيْدًا لِأنَّهُ يَعُوْدُ كُلَّ سَنَةٍ بِفَرَحٍ مُجَدِّدٍ

“Hari raya dinamakan Ied, karena kedatangannya terjadi setiap tahun dengan perasaan yang selalu baru.” Ahkām al-‘Idain (Juz 1/13)

  • Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H):

لَفْظُ اْلعِيْدِ اسْمًا لِمَجْمُوْعِ اْليَوْمِ وَ اْلعَمَلِ فِيْهِ وَ هُوَ اْلغَالِبُ كَقَوْلِهِ ﷺ: دَعْهُمَا يَا أباَ بَكْرٍفَإنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَ إنَّ هَذَا عِيْدُنَا

“Hari Raya, nama bagi hari berkumpulnya kaum muslimin, dan beramal di dalamnya, sesuai sabda Nabi: “Biarkan dia wahai Abu Bakar, karena setiap kaum punya hari raya. Dan ini hari raya kita.” (Kitab al-Iqtidha’, Juz 1/441-442);

  • Imam Ibnu Mulaqqin (Mesir: 723-804 H):

قال الإمام ابن الملقين رحمه الله في شرح العمدة: إنّما مقصود هذا الأمر تدريب الصغار على الصلاة و شهود دعوة المسلمين و مشاركتهم في الثواب و إظهار كمال الدّين

“Tujuan perintah di sini, antara lain adalah edukasi anak untuk shalat, menyaksikan doa kaum Muslimin, berserikat dalam pahala, dan menampilkan kesempurnaan agama ini.” (Imam Ibnu Mulaqqin, Al-I’lam bi Fawa’id Umdat al-Ahkam, Juz 2/326);

  • Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19, point II angka (1) dan (2);
  • Khittah Da’wah Islam Indonesia (KDII, 1985), terkait fungsi Dewan Da‘wah sebagai gerakan dakwah aspek bina‘an (membangun) dan difa‘an (mempertahankan).

Memutuskan:

Menetapkan:

  1. Shalat Hari Raya Idul Fitri tidak bisa dipandang hanya dari sisi hukum fikih semata, tanpa mengkaitkannya dengan aspek sejarah dikanunkannya, politik syi‘ar, wujud kebersamaan, kesatuan dan persatuan Islam;
  2. Shalat Idul Fitri 1441 H / 2020 M bisa dijadikan momentum oleh kaum Muslimin – Muslimat yang telah sempurna melakukan Shiyam dan Qiyam Ramadhan untuk mendo’akan bangsa dan tanah air Indonesia pada khususnya, dan warga dunia pada umumnya, keluar dari kemelut Pandemi Covid-19 dengan seluruh dampak yang ditimbulkannya;
  3. Menyerukan kepada kaum Muslimin untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1441 H / 2020 M, yang berada di zona bebas Pandemi Covid-19, di zona yang diyakini aman penyebaran Pandemi, atau di kawasan lain yang  benar-benar jauh dari kekhawatiran Pandemi;
  4. Pelaksanaan shalat Idul Fitri 1441 H / 2020 M sedapat mungkin  menerapkan standar prosedur kesehatan penanganan Covid-19. Dan bagi tempat yang berada di zona merah agar sedapatnya melaksanakan shalat Ied di rumah, sesuai kemampuan, sebagaimana Fatwa MUI nomor: 28/2020.

Demikian Fatwa ini dikeluarkan dengan penuh harap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bangsa ini Allah selamatkan dari segala kemelut yang melanda.

Diterbitkan di : Jakarta
Pada               : 25 Ramadhan 1441 H | 18 Mei 2020 M.

Majelis Fatwa dan Pusat Kajian
Dewan Da‘wah Islamiyah Indonesia

ttd.
Dr. Ahmad Zain an Najah, MA 
Ketua                                  

ttd
Drs. Syamsul Bahri Ismaiel, MH
Sekretaris